Minggu, 31 Juli 2016

Honeymoon ke Lombok - part 1/3

Horeeeee..... Doa saya untuk bisa pergi honeymoon terkabul juga! Memang terlambat BANGET sih, nikahnya Agustus 2014, honeymoon nya baru Februari 2016 wkwkw.. Ora popo sing penting keturutan horee...
Lombok, tempat pilihan saya sejak sebelum menikah. Nggak tau kenapa, pengen aja ke sana. Bali? Ah, mainstream! Singapore? Malaysia? Thailand? Australia? Eropa? Holyland? No, thank you. Mahal! Hahaha...

Luar biasa panjangnya diskusi saya dan suami sebelum pergi ke Lombok ini. Bolak balik ketunda (dan nyaris dilupakan) karena dananya terpakai buat biaya (utang) renovasi rumah. Puji Tuhan, walaupun masih menyisakan utang, saya bisa memaksa suami untuk pergi foya-foya sebelum punya anak hihihi..

Dan Lombok, it's worth the wait! Indah bangeettt.... Saya ceritain ya 3 hari 2 malam wisata kami di sana.

PERSIAPAN.

Kira-kira 2 bulan sebelumnya, kami sudah cari tanggal cuti. Dipilihlah 6-7-8 Februari karena pas long weekend libur tahun baru cina. Saya sih pengennya pertengahan tahun, biar nggak keganggu hujan, tapi kata suami kelamaan, kapan bikin anaknya kalo gitu hahaha... Ijin cuti disetujui kantor, langsung booking hotel, dan tiket pesawat, biar praktis langsung pake aplikasi Traveloka. Hotel dapet promo diskon Traveloka, Living Asia Resort dari 1 jutaan lebih jadi hanya 800ribuan saja semalam. Sewa mobil dari Rinjani Trans Lombok, sehari 450ribu udah termasuk driver dan bensin. Tadinya sih pengen ambil paket honeymoon dari Global Tour Lombok, tapi dipikir-pikir sayang duitnya ya, dengan hotel yang sama paketnya 9jutaan, cuma bedanya nggak pake dinner pinggir pantai diterangi cahaya obor dan nggak ditaburin bunga-bunga di kasurnya doang. Sedangkan kalo arrange sendiri, hotel dan mobil cuma 4jutaan. Itinerary bisa banget kita contek dari website provider tournya. Yaa kalo pengen bunga-bunga di kasur bisa kita taburin sendiri lah ya hahaha..

Oh ya, tips buat para pengantin baru yang cuma berduaan aja, pastikan kalian bawa tripod/tongsis/gorilla pod, just in case nggak ada yang bantu fotoin kalian berdua di lokasi #truestory.

DAY 1. February 6, 2016.

Berangkat pesawat pertama dari Jakarta naik Lion Air ke Mataram. Di Bandara Selaparang sudah disambut driver sewaan kami, Pak Sofian. Langsung kita diantar ke Desa Wisata Sade. Di sana kita dipandu guide lokal keliling desa sambil diceritain budaya setempat. Siapkan uang untuk sumbangan sukarela ya.

Pintu masuk Desa Sade

Proses memintal benang
Lumbung padi Sasak
Ngomong-ngomong soal Pak Sofian, beliau ini recommended banget. Putra daerah asli, jadi paham banget tempat-tempat wisata dan ceritanya, bahasanya sopan dan enak diajak ngobrol, maklum doi biasa bawa tamu pejabat dan bule, ditambah lagi punya banyak kenalan, jadi kita bisa masuk private beach dengan gratis hihihi.. Dan ternyata, pekerjaan sebagai driver ini cuma sampingan aja buat beliau, karena aslinya beliau adalah PNS di salah satu kantor kecamatan. Katanya, nggak perlu gengsi cari side job, selama halal dan nggak ganggu kerjaan kantor ya saya jalani saja. Luar biasa ya, kalo semua PNS jujur dan ulet kayak beliau!

Setelah itu kami diantar ke Pantai Kuta, tempatnya Putri Mandalika berubah jadi legenda Bau Nyale. Pak Sofian antar kami masuk lewat private beach nya Novotel hihihi.. Asli indah banget, ini satu-satunya pantai yang butiran pasirnya mirip butiran merica.

Private Beach Hotel Novotel

Pantai Kuta

Ngetes gorilla pod baru hahaha

Legenda Putri Mandalika

Capek main di pantai, kami makan siang di warung Nasi Balap Puyung depan bandara. Wuenak tenann... Selain karena kelaparan, juga memang rasa rempahnya khas.

Abis makan kami diantar ke hotel Living Asia di daerah Senggigi, yang ternyata jaraknya sekitar 2 jam dari bandara. Di tengah perjalanan menuju hotel, kami berhenti di desa wisata Sukarare, di mana kami bisa beli kain tenun rangrang khas Lombok, juga berfoto ala pengantin Lombok.

Baju pengantin Sasak

Belajar menenun di Sukarare
Akhirnya kami pun sampai di Hotel Living Asia Senggigi. Lepas check-in, kami mengagumi keindahan hotel, ternyata emang sesuai dengan ulasan di internet. Sorenya, setelah menikmati coffee break, kami jalan kaki di pinggiran pantai Senggigi, menikmati pemandangan ombak dan resort yang berjejer di sepanjang pantai, melihat warga setempat surfing, sambil gandengan tangan. Uhuuyy gitu aja udah girang banget, masih takjub akhirnya kami honeymoon juga hihihi...

Menikmati angin pantai

Salah satu view Living Asia Resort

Di depan kamar

Coffee break pinggir pantai Senggigi

Resto pinggir pantai Senggigi

Sampai di hotel barulah berasa pegel badan ini. Langsung masuk ke tempat spa di hotel. Kapan maneh rek, dipijat berdua di pulau impian, si suami sampe ngorok loh saking menikmati pijatan mbaknya hihihi.. Paket pijat tradisional 600ribu berdua. Mahal ya, biarin aja kan lagi liburan!

Nih tempat spa nya
Orang gendud mau dipijet wkwkwk

Sebenarnya sih, saya pengennya nginep di Qunci Villas, sama di pinggiran Pantai Senggigi juga. Dari hasil browsingan keren banget, pas buat honeymoon. Tapi tarifnya alamakkk, bisa 4x lipat budget! Akhirnya nyari hotel yg suasananya mirip tapi tarif lebih murah, dapetlah Living Asia ini. Suatu saat kalo kami punya rejeki lebih, pengen nginep lah di Qunci Villas.

Hari pertama ditutup dengan makan malam romantis........di kamar sendiri hahaha... Saking capenya, nggak pengen ke mana-mana lagi, cuma pesen ayam taliwang aja dari restoran hotel.

Baca juga cerita hari kedua dan ketiga yang saya tulis di postingan berikutnya ya!

Sabtu, 09 Juli 2016

Semalam di Semarang

Januari 2016 lalu, saya dan suami pergi ke Semarang untuk menghadiri yudisium adik saya satu-satunya. Kebetulan orang tua saya baru bisa ke Semarang minggu depannya saat wisuda, jadi acara yudisiumnya kami ajalah yang hadir, lumayan sekalian wisata hehe..

Berhubung sudah tanggal tua dan belum gajian, jadi berangkatnya naik kereta aja ya hahaha.. Tanggal 23 Januari 2016 pagi-pagi banget kami sudah siap di Stasiun Pasar Senen untuk naik kereta Menoreh jam 7 pagi tujuan Semarang Tawang. Kebetulan beberapa hari sebelumnya adik menginap di rumah saya di Bekasi untuk ikut tes penerimaan sebuah instansi, jadi pagi itu kami berangkat bertiga.

Kereta Menoreh ini kelas ekonomi, tapi sangat nyaman lho. Beda jauuhh banget dari saat terakhir saya naik kereta jaman awal kuliah dulu 10 tahun yang lalu, waktu itu naik kereta ekonomi sudah tidak manusiawi lagi namanya, tapi gombalsiawi saking sumpeknya macam tumpukan gombal dijejel-jejelin haha.. Kereta ekonomi sekarang sudah ada AC nya, bangkunya pun empuk, ada colokan charger pula. Penumpang duduk tertib sesuai nomor tiketnya. Di dalan kereta juga ada pramugari yg menawarkan sarapan dan makan siang, juga bantal (tapi bayar). Pokoknya nggak rugi deh perjalanan 8 jam di kereta ini. Hebat ya Pak Jonan bisa bikin perubahan besar!


Tiket KA Menoreh

Sampai di Stasiun Tawang Semarang, kami langsung naik omprengan menuju tempat kos adik di dekat Undip Pleburan. Dengan alasan hemat budget, kami tidak sewa hotel, cukup satu kamar kos kosong yang tarifnya cuma 100 ribu semalam haha.. Lumayan sudah bisa dapat kamar AC plus televisi. Bapak kosnya baik pula.

Sore hari saat adik pergi ke kampus untuk gladi bersih yudisium, saya dan suami naik motor keliling kompleks, dan mampir makan di sebuah warung yang kelihatannya rame, banyak mahasiswa nongkrong di situ. Dan memang harganya murah. Namanya Ayam Geprek Idola. Makan berdua nggak sampai 40 ribu, padahal suami saya sempat nambah porsi lho haha..


Malam harinya adik mengajak saya dan suami jalan-jalan ke pusat kota Semarang. Tidak banyak tempat yang kami kunjungi karena takut bangun kesiangan besoknya. Kami hanya mengunjungi pasar malam Kota Tua, Gereja Blenduk, trus naik becak ke alun-alun Simpang Lima. Cuma jalan dan foto-foto aja kok, gak belanja hehehe.. Oh ya, kami juga sempat bikin karikatur siluet gitu, di seorang seniman yang mangkal di alun-alun.

Gereja Blenduk Kota Tua Semarang

Numpak becak dari Kota Tua ke Simpang Lima

Alun-alun Simpang Lima Semarang

Keesokan harinya, acara yudisium dilaksanakan di Hotel Patra Jasa. Bangga rasanya, adik saya ini IPK nya 3,8 alias cumlaude lho! Melihat dia berbaris dan dapat tempat duduk di barisan terdepan wisudawan, seolah saya lupa dulu dia  nggak pernah juara semasa sekolahnya (ups!). Ah, bila orang tua saya hadir, pastilah mereka mbrebes mili lihat adik saya ini. Siapa sangka anak yang dulunya paling bandel sekarang jadi satu-satunya yang bergelar S2 di keluarga saya.

We proud of you!

Selesai acara, kirain ada makan-makan dong ya.. Ga taunya garingan, langsung bubar dong hahaha.. Untung udah sarapan sebelumnya. Adik mengajak kami makan siang di depot Mie Lampung, masakan cina. Sampai di kosan, istirahat bentar, lalu packing siap-siap berangkat ke bandara.

Sore itu saya dan suami pulang ke Bekasi dengan hati senang dan penuh harapan, semoga masa depan cerah menantimu, dik! Selamat berjuang mencari nafkah dan rasakan sensasinya hahaha..

Senin, 11 Januari 2016

Pegawai Bank kok Ngajar Kesehatan?

Tanggal 5 Desember 2015 yang lalu, seorang senior saya di kantor (kebetulan beliau juga satu paroki dengan saya) meminta saya untuk mengisi materi Keluarga Berencana pada event Kursus Persiapan Perkawinan di paroki Servatius Bekasi. Event ini diadakan beberapa kali dalam setahun. Kebetulan ibu bidan yang biasa membantu mengisi materi tersebut berhalangan hadir. Dan sepertinya panitia juga cukup kesulitan untuk menemukan penggantinya, kalo tidak, mana mungkin karyawan bank seperti saya diminta untuk mengajar materi kesehatan? Hahaha..

Awalnya saya sempat ragu dan ingin menolak. Sudah lama sekali saya tidak pernah belajar lagi ataupun sekedar update berita terbaru tentang Keluarga Berencana. Bagaimana jadinya kalau nanti informasi yang saya sampaikan salah? Bagaimana nanti kalau saya tidak bisa menjawab pertanyaan peserta? Dan berbagai ketakutan lainnya. Tapi entah kenapa hati saya akhirnya tergerak untuk menerima tantangan ini.
Dalam Kursus Persiapan Perkawinan terdapat session khusus yang (paling) ditunggu-tunggu peserta, yaitu Materi Seksualitas. Wuah, lihat judulnya aja udah seger ya kan hahaha.. Biasanya sesi ini diisi oleh seorang dokter (materi fisiologi alat kelamin dan hubungan seksual), serta seorang bidan (materi Keluarga Berencana sesuai ajaran Katolik). Saya hanya diminta menggantikan sang ibu bidan. Jadi di sela-sela kesibukan kantor saya siapkan materi presentasi tentang KB tersebut. Bukan hal yang mudah karena saya harus belajar lagi tentang materi kuliah yang sudah lama tidak saya sentuh. Ditambah dengan tugas kantor yang tak ada habisnya, jerawat saya langsung bermunculan menghiasi wajah imut ini hihihi..

Pada hari-H, sejak pagi saya udah deg-degan. Saya terus baca-baca materi presentasi berulang kali, supaya tidak ada hal yang terlewatkan. Beberapa kali juga saya revisi isi presentasinya agar lebih enak dibaca. Untung saya punya suami pengertian, dia yang siapin sarapan dan tidak mengganggu selama saya belajar haha.. Singkatnya, Power Point akhirnya selesai juga tepat 3 jam sebelum acara mulai.

Ini judul presentasi saya


Saya tiba di aula gereja Servatius jam 12 siang, 1 jam sebelum showtime. Saya disambut dengan kepanikan panitia. Olalaa... ibu dokter yang seharusnya mengisi materi bersama saya tiba-tiba berhalangan hadir! Lha terus gimana dong, materinya siapa yang nyampein?? Ya siapa lagi kalo bukan saya. Jreng jreng jreng! Panik? Pasti lah. Akhirnya pada detik-detik terakhir saya pinjam laptop panitia untuk menambal sulam Power Point, saya tambahkan materi yang seharusnya disampaikan oleh ibu dokter tersebut. Keringat mengucur deras. Materi punya saya sendiri saja sudah bikin nervous, ini malah ditambah lagi materi orang lain. Dalam hati saya sudah bertekad, kalo sampe nanti nge-blank di panggung, saya skip saja materi sang ibu dokter.

Saat itu ada sekitar 60 orang peserta uang hadir. Terbilang sedikit untuk ukuran KPP, mungkin karena sudah memasuki masa Advent, persiapan menyambut Natal. Saat awal presentasi, saya tidak mengenalkan diri sebagai (mantan) perawat apalagi karyawan bank. Saya takut panitia akan dicemooh karena memilihkan pemateri yang tidak terlibat langsung dalam dunia medis. Puji Tuhan, saat membawakan materi saya bisa tenang dan santai. Saya bahkan sempat iseng meminta salah seorang peserta yang berprofesi sebagai perawat untuk maju ke depan menjelaskan mengenai anatomi alat kelamin pria. Haha.. Sebenarnya saya cuma pengen tahu, jangan-jangan ada di antara peserta yang berprofesi sebagai dokter, perawat, atau tenaga kesehatan lainnya yang tentunya ilmunya jauh lebih banyak dari saya. Kan malu kalo ketauan salah omong hehehe..

Oh iya, dalam ajaran gereja Katolik, KB yang diperbolehkan hanya KB alami, salah satunya yaitu dengan perhitungan masa subur atau yang dikenal dengan metode kalender. Jadi saya alokasikan lebih banyak waktu untuk mengajari peserta cara menghitung siklus menstruasi dan masa subur. Ini sekaligus berbagi pengalaman, karena saya juga menerapkan metode tersebut selama ini hehe..

Simulasi cara menghitung masa subur


Saya tertarik dengan satu pertanyaan peserta, bagaimana cara mengatur bila ingin memilih jenis kelamin anak? Pertanyaan ini pernah saya dengar sebelumnya saat saya dan suami mengikuti KPP dulu sebelum menikah. Saya penasaran apa memang pertanyaan ini selalu muncul setiap KPP ya? Haha.. Karena teori yang populer tentang pengaturan diet untuk mendapatkan jenis kelamin tertentu itu tidak saya kuasai, maka saya hanya menjawab secara logika saja, tentang teori kromosom X-Y yang saya hubungkan dengan teori perhitungan masa subur. Yaa intinya pinter-pinternya ngomong aja, agar tidak ketahuan bahwa sebenarnya pengetahuan saya secara praktek nyata sangat terbatas hehehe..

Setelah jam menunjukkan pukul 14.30, saya memutuskan untuk mengakhiri sesi tersebut. Sebenarnya saya masih  punya setengah jam lagi, tapi para peserta sudah banyak yang menguap, dan saya sendiri sudah capek deg-degan berpura-pura pintar hahaha.. Yang penting saya sudah membantu sekuat tenaga sesuai kemampuan saya.

Senang rasanya bisa membantu panitia. Bukan karena di akhir acara saya dapat souvenir payung lipat, tapi lebih karena uniknya cara Tuhan menggunakan saya untuk melayani sesama manusia. Siapa sangka ilmu yang sudah lama saya tinggalkan ternyata masih berguna? Kalo bukan karena Tuhan, siapa lagi?

Wajib selfie walopun make up udah luntur

Sabtu, 19 Desember 2015

New Task, New Opportunity

Hi, good people! Lama juga ya, hampir 4 bulan blog ini saya cuekin hihi.. Ke mana aja mbakyuuu? Sibuk?? Iya nih, (sok) sibuk!

Terhitung per Agustus 2015, saya pindah unit kerja di kantor. Masih dalam 1 biro kok, cuma pindah ruangan aja. Dari Support Analis, sekarang di Analis KPR. Jobdesc- nya tentu beda. Kalo dulu kerjaan saya hanya bersifat helicopter view saja gak turun langsung ke operasional, sekarang saya selalu punya tumpukan memo yang mengantre untuk dikerjakan hahaha..

Ini workstation baru saya

Kesibukan yang berbeda ini otomatis menguras tenaga dan waktu saya. Sebagai anak baru, saya harus konsentrasi belajar prosedur penginputan sistem dan judgement analisa. Beruntung ilmu yang saya dapatkan selama 3 tahun pengalaman di unit kerja sebelumnya banyak membantu saya, jadi saya nggak bloon-bloon amat lah belajarnya haha.. Beruntungnya lagi, saya ditempatkan dalam tim kerja yang nyaman, teman-teman yang kocak, atasan gak galak, mentor saya juga pintar dan sabar, jadi saya bisa belajar sampai benar-benar paham. Bahkan walaupun baru aja 3 hari belajar, saya gak kuatir ketika langsung diberi memo untuk dikerjakan sendiri, karena saya tahu tim saya selalu siap membantu bila ada kesulitan.

Buku sakti nih!
Ini momen saat mentor saya resign :(

Boleh dibilang sekarang saya kerja hampir kayak robot. Aplikasi KPR ini datang terus menerus tiada henti (halah, lebay!). Seumpama pabrik, kami ini seperti operator yang ada di pinggir conveyor belt, dan aplikasi KPR itu produk yg harus terus mengalir lancar di atas conveyor belt. Target kami sebagai analis di kantor pusat adalah gimana caranya kami kerja cepat tapi benar dan hasilnya memuaskan customer. Selain nasabah, rekan-rekan di kantor cabang juga merupakan customer buat kami, karena merekalah yang sudah bekerja keras membantu kami "jualan" produk KPR.

Tumpukan memo

Time flies so fast kalo kalian jadi analis. Kayaknya baru aja ngeliat arloji masih jam 9 pagi. Ketak ketik, itang itung, mumet mumet, telepon sana sini, eh tau-tau udah jam 12. Pantes perut keroncongan. Suami saya aja ngeledekin gara-gara saya jadi makin jarang balas message doi di Whatsapp. Tak jarang saya juga terpaksa lembur karena takut kerjaan gak selesai sampai besok.

Penampilan analis saat jam kerja jangan dibandingkan deh dengan tim sales, soalnya udah kayak bumi dan langit hahaha... Memang pagi hari saya selalu dandan. Lama-lama udah bodo amat, lipstik luntur eyeliner bleber gak ngurus wes, yg penting memo kelar. Bisa dibandingkan dulu saat masih di Support Analis saya sering poles ulang bedak dan pakai heels sepanjang hari. Karena memang sering meeting dengan tim lain, juga sering bertemu dengan para pejabat dan rekanan, malu sendiri kalo kelihatan cupu. Begitu pindah ke Analis, heels jarang dipakai, wajah pun ala kadarnya. Pas ada kunjungan dari teman-teman tim sales, asli jomplang banget kondisinya, karena mereka selalu tampil menarik sepanjang hari hahaha..

Ini masih pagi baru dandan haha..


Menjadi analis membuka wawasan saya bahwa banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mencari rejeki. Di Jabodetabek khususnya, rasanya hal kecil saja bisa menghasilkan uang. Misalnya salah satu nasabah yang pernah saya tangani, jualan sisa limbah kain dari pabrik saja omsetnya bisa ratusan juta dalam sebulan. Saya selalu kagum saat menangani nasabah yang masih muda, namun gajinya lebih besar dari saya. Beberapa kali saya catat nama kantornya, siapa tahu berguna suatu saat untuk adik saya atau saudara yang membutuhkan pekerjaan. Dari para nasabah ini juga banyak ide bisnis yang terlintas, siapa tahu suatu saat berguna buat saya sendiri hehe..

Ya, semoga suatu saat saya juga bisa menjadi pengusaha sukses (dan gak bosenan) seperti mereka.

Minggu, 23 Agustus 2015

Let's Get Lost in Jakarta!

Ceritanya, kemarin Sabtu 22 Agustus 2015, jadwalnya si mungil Scarlett masuk bengkel karena body bagian bawah penyok abis gasruk trotoar (ternyata asuransi mobil itu membantu banget buat orang yg nyetirnya masih rookie haha). Saya dan suami udah nongkrong pagi-pagi di Honda Pondok Indah buat ninggalin Scarlett rawat inap. Nah, mau langsung balik lagi ke Bekasi saya merasa rugi dong udah bela-belain bolos kelas zumba dan menjahit hari itu demi nganter Scarlett ke Jakarta haha.. Akhirnya kami memutuskan untuk membolang (bocah ilang) dulu sebelum pulang.

Tujuan pertama saya pengen ke Pasar Mayestik yang melegenda dengan kain-kain cantiknya. Bingung naik apaan ke sananya, jangan kuatir karena ada mbah Google. Di sana tertulis kami bisa naik Metromini no. 74 jurusan Blok M - Mayestik - Tanah Kusir. Siipp lahh.. keluar bengkel langsung muncul tuh si Metromini 74. Dengan pedenya kami langsung naik dan duduk manis. Di perempatan Mall Pondok Indah, sang Metromini bukannya belok kiri ke arah Blok M/Mayestik, eh malah puter balik. Hati kami mulai ragu ini bus sebenernya mau ke mana sih, karena GPS juga bilang kita menuju arah yang salah. Olalaa... rupanya kami dibawanya ke daerah Tanah Kusir, yang berarti kami naik Metromini 74 yang sudah mau pulang ke pemberhentian terakhirnya di Tanah Kusir haha.. Bener-bener jadi bocah ilang nih judulnya. Yasudahlah, daripada kami nyasar lebih lanjut di daerah antah berantah, kami turun aja di dekat kuburan Tanah Kusir yg terkenal itu (udah kayak mbak kuntil turunnya di kuburan). Nyebrang jalan, langsung nyetop Metromini 74 yang menuju ke arah sebaliknya. Kali ini saya pastikan dulu ke pak kernet, bener gak ini ke arah Mayestik, baru kami naik haha..

Metromini 74 di Terminal Blok M
Setelah beberapa lama dugem (duduk gemetar) di dalam Metromini yang berguncang-guncang, sambil memantau GPS juga, sampailah kami di Pasar Mayestik dengan selamat sentosa, kira-kira masih jam 9 pagi. Ternyata pasar ini bentuknya sudah bagus dan ber-AC, seperti mall. Belum ada toko kain yang buka di dalam plazanya. Jadi kami menyusuri toko-toko kain di luar plaza, saya cari satu persatu nama toko yang banyak direkomendasikan oleh para netizen. Ternyata tidak sesuai harapan saya, pilihan kain yang saya cari tidak terlalu banyak, dan harganya juga standar gak murah-murah banget seperti yang dibilang di internet. Intinya masih belum sreg belanja kain di sana haha.. Padahal perjuangan menuju lokasinya aja udah menguras emosi, sampai sana malah gak beli apa-apa. Maka sebelum kesabaran pak suami habis, kami putuskan untuk segera cabut dari tempat itu.

Pasar Mayestik yg sudah bagus


Merasa buta arah, browsing lagi deh nyari angkutan buat pulang. Mbah Google bilang, dari Mayestik kami harus naik angkutan ke terminal Blok M, ntar dari Blok M baru oper angkutan lagi ke terminal Kampung Rambutan. Persis di depan Pasar Mayestik kami nyetop sembarang angkutan yang tulisannya Blok M, waktu itu kalo gak salah Metromini 611. Perjalanan sedikit macet karena jalur kami melewati proyek pembangunan MRT. Tak lama kemudian sampailah kami di terminal Blok M.

Terminal Blok M ini dikelilingi mall besar seperti Blok M Square, Blok M Plaza, dan Pasaraya Grande. Lagi-lagi saya ogah pulang, pengen nge-mall dulu haha.. Saya rayu lah pak suami, dengan alasan udah lama gak pergi ke bioskop. Yeess.. untungnya doi setuju, cuusss kita masuk ke Blok M Plaza. Masih jam 10.30 pagi, bioskop belom buka dong yaa.. Jadi kita keliling mall dulu, keluar masuk toko, naik turun eskalator. Sebenernya saya juga butuh tas kerja dan heels baru karena yang lama udah beset sana sini, kan malu kalo dipakai meeting di kantor hihihi.. Tapi boro-boro beli, baru milih-milih aja si bos besar udah keliatan bete nungguinnya. Yasudah lain kali aja deh belinya gak usah ngajak suami. Hadeehh.. cewek kalo mau shopping mendingan gak usah lah ngajak cowok, diburu-buru terus jadi kurang puas kan milih barangnya. Kecuali kalo ke pasar, boleh lah ngajak cowok, lumayan buat ngangkutin sayur belanjaan hihihi..

Salah satu sisi Blok M Plaza


Rasanya udah semua lantai mall kami kelilingi, tapi bioskop belum buka juga. Akhirnya kami makan dulu di resto seafood D'Cost. Terjadi percakapan kocak dengan mas waiternya.

Waiter: Mau nambah teh atau sambelnya kak?
Saya: Gak usah mas.
Waiter: Teh dan sambelnya free kak.
Saya: Oh boleh deh, es teh manis ama sambel mangga ya mas.

Hahaha.. Prinsip saya: Biar plinplan asal dapet gratisan! Tapi ujung-ujungnya itu sambel gratisan gak saya habiskan juga, wong pedesnya minta ampun!

Dapat gratisan sambal mangga dan es teh manis


Selesai makan, bioskop sudah buka. Tak direncanakan kami malah movie marathon. Pertama film kartun berjudul Inside Out, langsung lanjut film kedua dari komik Marvel berjudul Fantastic Four. Harga tiketnya mahal juga ya, 50 ribuan padahal bioskopnya masih level 21. Di Bekasi aja udah XXI tapi harganya cuma 40 ribuan (yaiyalaahh.. Jakarta kok dibandingin ama Bekasi hahaha).

Ini kedua film yg kami tonton di bioskop


Film kelarjam 16.30, udah cukup kencannya, time to go home. Kami pun kembali ke terminal Blok M, berniat naik Metromini 76 jurusan Blok M - Kampung Rambutan. Sejauh mata memandang, yang dicari kok gak ada yaa? Akhirnya mata kami tertumbuk pada bus Kopaja 605, yang juga ke arah Kampung Rambutan. Langsung deh naik. Ngetemnya lama euyy... si bos sampe bete kepanasan.

Untung kemarin Kopaja nya gak penuh kayak gini hihi..


My baby boy mulai rewel karena Kopaja ngetem lama


Ke Jakarta belum lengkap kalo belum merasakan macetnya lalu lintas. Marah juga gak bakalan bikin jalanan lancar. Gak heran ya, banyak penumpang yang nyumpelin headset di telinga, ataupun asyik dengan games di gadgetnya. Sedangkan kami ngobrol berdua dengan bahasa Jawa, sesekali bergumam takjub saat Kopaja melewati deretan rumah dan gedung mewah hahaha.. Abis di kampung gak ada yang kayak gitu.

Turun dari Kopaja, kami nyambung lagi naik angkot AL 28 Tol yang ke arah Ujung Aspal. Naik angkot ini harus siap-siap berdesakan kayak pepes, soalnya kalo belum penuh gak bakalan berangkat haha.. Kami turun di kolong jalan layang dekat pintu tol Jatiwarna, karena di situlah para abang ojek mangkal. Yupp, karena Puri Gading udah dekat, langsung ajalah naik ojek sampe depan rumah.

Angkot AL 28 Tol


Fiuuuhh... Sampai juga di rumah. Udah jam 19.00, artinya 12 jam kami melakukan perjalanan antarkota antarprovinsi haha.. Ini baru nyoba sehari naik angkutan umum rasanya udah kayak tua di jalan, pergi kinclong pulangnya ubanan. Gimana rasanya kalo tiap hari harus pulang pergi ke kantor naik angkutan umum? Hahaha.. Makasih deh. Mending kami tetap setia dengan motor kesayangan, gapapa capek dikit nyetirnya tapi sampai rumah bisa lebih cepat. Kalo naik motor kan bisa nyelip-nyelip di antara kendaraan besar dan bisa lewat jalan pintas yang sempit. Emang andalan banget deh kedua sepeda motor kami! Sehat terus ya, Tor! *elus-elus sepeda motor*

Enjoy Jakarta, good people!

Rabu, 12 Agustus 2015

The Bohay Family: Sepenggal Kenangan PSIK FKUB Angkatan 2006

Teamwork makes the dream work!


Banyak yang bilang, masa SMA adalah masa remaja yang paling indah. Tapi buat saya, masa kuliah adalah masa remaja yang paling indah. Masa yang penuh kenangan dan petualangan. Masa pencarian jati diri tapi entah kenapa sang jati diri itu sendiri gak ketemu juga haha..

Sejak SMA, saya selalu bercita-cita pengen kuliah di Malang. Waktu itu alasannya cukup childish, karena pengen punya teman baru yang sama sekali beda dengan teman-teman sekolah. Abis, dari SD sampai SMA temannya 4L, lu lagi lu lagi hihihi..

Saking pengennya kuliah di Malang, saat ada teman yang pergi ke Gua Maria Lourdes, saya titip didoakan agar bisa diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Doa saya pun terkabul, saya diterima! Tapi sayangnya mungkin doa saya kurang spesifik (dan belajarnya gak pernah serius). Saya memang diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, tapi jurusannya Ilmu Keperawatan, bukannya Pendidikan Dokter seperti keinginan saya! Hahaha... Rapopo lah, sing penting iso kuliah nang Malang.

Lapangan rektorat


Kelas angkatan 2006 ini seru banget orang-orangnya. Kocak dan pintar. Yang paling saya sukai, mereka mau berbaur dengan siapa saja, dan siap membantu, walaupun bukan teman se-gank-nya. Inilah yang membuat saya merasa betah, mengingat dulu semasa saya sekolah, saya tergolong murid yang invisible alias biasa-biasa aja di mata guru dan anak-anak lainnya. Pinter enggak, bego juga enggak. Cantik enggak, jelek juga enggak. Bandel enggak. Cupu iya haha.. Ditambah lagi waktu itu saya cenderung menarik diri dari pergaulan mainstream. Tapi di kampus, meskipun juga bukan mahasiswa populer, saya menemukan orang-orang yang nyambung gaya hidupnya dan gaya bercandaannya, serta menerima saya apa adanya. Saya merasa bisa mencapai puncak tertinggi dalam piramida Abraham Maslow: aktualisasi diri.

Kampus FK memang unik, mahasiswa tidak diperbolehkan mengenakan celana jeans. Mahasiswi diharuskan memakai rok (makin panjang roknya makin baik). Apalagi di kelas anatomi, semua cewek wajib pakai rok panjang! Bukannya tanpa alasan, hal tersebut dimaksudkan agar kita terbiasa menghormati pasien (baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal). Namanya mahasiswa, kadang saya dan beberapa teman tetap bandel mencuri kesempatan untuk mengenakan celana jeans di kelas haha..

Ini gedung kuliahnya


Di kampus, banyak kisah yang terjadi. Cinta lokasi, guyonan, foto narsis, rekreasi, kompetisi, organisasi, dan Dekan Cup. Dekan Cup ini semacam perlombaan tahunan olah raga dan seni di FK. Timnya dibagi per jurusan, ada kedokteran, keperawatan, gizi, dokter spesialis, serta kardos alias karyawan dosen. Seingat saya, jurusan kami unggul di pertandingan voli dan pentas seni (mohon dikoreksi ya kalo salah hehe). Tim kami selalu solid, baik pemain maupun suporternya, heboh semua haha.. Saya pernah ikutan manggung di pentas drama, berperan sebagai Endeliyawati hihihi.. Pernah juga ikutan fashion show baju berbahan koran bekas. Bahkan pernah juga sok-sokan ikut pentas dance (barisan belakang yang gak banyak kesorot kamera haha). Tapi seringnya sih saya sebagai suporter aja, bagian yel-yel ala Aremania gitu deh hehehe..

Puji Tuhan semua pelajaran di kampus selama 4 tahun dapat saya lalui tanpa masalah berarti. Dari anatomi sampai biomedik. Dari teori asuhan keperawatan hingga kesehatan masyarakat. Pada dasarnya saya memang menyukai biologi. Sampai pada waktunya setelah berhasil meraih gelar sarjana, kami masih harus berjuang lagi di masa pendidikan profesi selama setahun untuk meraih gelar Ners.
Nah, setahun masa profesi ini, saya sekelompok dengan 6 orang lainnya. Uul, Niena, Listy, Wien, Rimas, dan Wahyu. Di saat kelompok lain anggotanya gonta ganti dan terus bertambah, kami seperti ditakdirkan untuk tetap bertujuh hingga lulus. Uul yang paling bijak dan dewasa di antara kami, didapuk jadi ketua kelompok. Niena yang dreamy dan hobi nonton Naruto. Listy yang pendiam tapi sekalinya ngomong bikin ngakak. Wien si nyonya modis yang pinter masak. Rimas yang cerdas logis dan canggih teknologinya. Dan Wahyu yang paling ganteng dan getol meracuni kami dengan video klip girlband Korea yang pahanya diumbar ke mana-mana haha.. Mereka berenam inilah penyemangat saya, di tengah semangat yang memudar karena merasa salah jurusan haha..

Kiri-kanan: Uul, Listy, Saya, Wahyu, Wien, Rimas, Niena
UGD RSUD Purut Pasuruan
Kami menamakan diri The Bohay Family. Padahal yang badannya bohay alias montok cuma Wien, Rimas, dan saya, tapi sepertinya yang lain juga bercita-cita untuk punya badan bohay hahaha.. Karena hampir tiap hari kami ketemu, jadinya sudah seperti keluarga sendiri. Urat malu sudah kami hilangkan. Kami sampai membuat jaket seragam juga loh hahaha..

Masing-masing jaket ada nama pemiliknya


Jujur saja, pendidikan profesi ini cukup berat bagi saya. Kami harus mempelajari semua departemen keilmuan secara real di lapangan, dengan tugas laporan yang segambreng. Beberapa kali kami ditugaskan praktek di desa terpencil, tinggal di rumah sederhana dengan segala keterbatasan, berbaur dengan masyarakat sekitar untuk mengatasi masalah kesehatan mereka. Pernah juga begadang nungguin orang lahiran. Dinas di RSJ Lawang dan merasakan apesnya pipi dicium pasien (mau marah tapi kok ntar dikira sama-sama pasien RSJ haha). Yang paling berat saat dinas di rumah sakit umum dan dapat jadwal dinas MSP alias malam-sore-pagi, aduhh rasanya hampir tumbang badan saya.

Saya paling suka dinas di Puskesmas, karena jam kerjanya pendek, siang hari sudah tutup dan kami boleh pulang haha.. Dinas di pelosok desa juga enak. Bisa merasakan dinginnya hawa pegunungan. Belajar memerah susu sapi. Berinteraksi dengan masyarakat yang sederhana dan super duper ramah. Penyuluhan kesehatan sampai mengajar PAUD untuk balita. Ikut pengajian ibu-ibu, waktu itu saya sampai hafal Al-Fatihah lho haha..

Keperawatan Komunitas di Desa Precet Malang. Ini siswa PAUD nya hihi..

Dinas di Puskesmas Singosari


Untung saya punya The Bohay Family tempat saya berkeluh kesah dan berbagi cerita. Kelompok saya ini sangat solid. Semua saling bahu membahu dalam menyelesaikan tugas kelompok. Juga saling membantu (dan menyontek) dalam mengerjakan tjugas individu. Saling menyemangati saat ada yang merasa lelah dan hampir menyerah. Kami juga dipercaya mengkoordinir acara Sumpah Ners angkatan kami setelah wisuda. Tak ketinggalan untuk urusan jalan-jalan dan makan-makan kami juga kompak dong hehehe..

Puji Tuhan pada 24 September 2011 kami bertujuh akhirnya lulus dengan kompak juga, bersama teman-teman lainnya. Jerih payah kami tidak sia-sia. Kami bisa membanggakan orang tua kami dengan maju ke podium mengenakan toga, dan dengan diiringi alunan Gaudeamus Igitur kami menerima ijasah, serta mengucapkan sumpah Ners. Many thanks and big hugs for you, Bohays! XOXO.
Setelah wisuda dan pengucapan Sumpah Ners

Yudisium Ners


Sekarang kami bertujuh sudah mengambil jalan hidup masing-masing. Tiga orang dari kami tetap on the track berkarir di bidang pelayanan kesehatan. Ada yang berkarir di bidang pendidikan. Bahkan ada juga yang karirnya lebih mulia, sebagai full time moms. Saya sendiri? Jangan ditanya deh hahaha.. Semoga kami diberi kesempatan lagi untuk berkumpul lengkap bertujuh, plus pasangan dan anak-anak kami. Amiinnn.

Anyway.. Dari semua yang telah saya alami, saya merasakan sendiri, betapa mulianya pekerjaan tenaga kesehatan. Dengan segala keterbatasan, mereka mengesampingkan kepentingan pribadi demi menolong sesama. Apalagi perawat, yang 24 jam selalu ada mendampingi pasien. Salut! Semoga masa depan profesi ini semakin baik di Indonesia.

Minggu, 02 Agustus 2015

Happy 1st Anniversary, Darling!

Time goes by, so slowly
And time can do so much
- lagu "Are You Still Mine"


Ikrar pernikahan kami


Hari ini, 2 Agustus 2015, genap 1 tahun saya mengikat janji suci pernikahan dengan nduti Dony Satria Angrita Rushardianto. Gimana rasanya menikah? Tak banyak berubah, terasa masih kayak pacaran. Hehehe...

Kami berdua dan orang tua kami sebenarnya sudah saling kenal sejak kami masih kecil. Bagaimana tidak, sejak TK hingga SMA, sekolah kami selalu sama, dia kakak kelas saya, dan bos saya yang rese ketika di OSIS. Rumah orang tua kami di Jember juga dekat, masih di kelurahan yang sama. Eh ternyata, jauh-jauh kuliah di Malang, ketemunya dia lagi. Satu kampus pula, walaupun beda jurusan.

Saya dan dia dulu memang high quality jomblo, belum pernah pacaran sebelumnya (yaa, ada 2 kemungkinan sih, alim atau memang gak laku). Awalnya biasa aja, lama-lama saya galau pengen punya pacar. Hihihi.. Entah siapa duluan yang memulai (kayaknya saya sih), kami pun mulai sering jalan berdua. Modus si doi adalah mengajak ikut misa di gereja Katedral Malang setiap Sabtu sore. Selesai misa, malah saya yang gak mau langsung pulang, minta jalan-jalan dulu. Hahaha.. Tiga bulan pedekate, akhirnya Desember 2008 kami resmi pacaran. Waktu itu dia semester 7 dan saya semester 5.

Ini dia Gereja Katedral Malang


Saya bersyukur kepada Tuhan, karena Tuhan lah yang menjodohkan saya dengan dia. Dia adalah orang yang saya kagumi karena kepintaran dan keteguhan niatnya. IPK si doi cum laude cyiinnn, itu hal pertama yang bikin saya kepincut (ini nyari pacar atau wawancara kerja sih, kok yg dilihat IPK). Di usia kami yg masih remaja saat itu, saat cowok-cowok lain masih mikirin gadget atau model rambut terbaru, dia masih culun sudah punya rencana-rencana yang matang untuk masa depan. Dia juga orang yang pelit rajin menabung, dan selalu ngingetin saya buat berhemat. Kalo kita mau pacaran ke mall, kita selalu makan dulu di warung biasa yang murah, abis itu baru berangkat ke mall, jadi di mall gak perlu beli makanan lagi karena udah kenyang. Kalo saya belok ke toko sepatu, dia langsung menyeret saya ke tempat lain biar saya gak tergoda membelinya. Haha.. sampai segitunya.

Hasil photobox di Matos Malang

Pacaran di Taman Safari Prigen

Pacaran naik bianglala di Batu Secret Zoo


Sempat menjalani pacaran jarak jauh, yang membuat kami banyak konflik karena tidak ada yang mau mengalah untuk pindah kerja. Tuhan sungguh baik kepada saya dengan cara-cara yang menakjubkan, betapa saya sangat beruntung mendapat pekerjaan yang bisa dijadikan pegangan hidup (yang jauh berbeda dengan latar belakang pendidikan saya) di Jakarta. Bukan pekerjaannya atau Jakartanya yang saya cari, tapi bisa dekat lagi dengan si dia, itu sebuah karunia yang tak tergantikan.

Pacaran kami makin serius. Desember 2012 kami bertunangan. Kami pun menyusun rencana untuk rumah tangga kami dan Puji Tuhan diberikan rejeki untuk mulai menyicil sebuah rumah di planet Bekasi. Setelah proses KPR dan sedikit renovasi, Agustus 2013 si dia resmi tinggal di rumah mungil ini. Saya sebenarnya juga pengen pindah ke rumah baru, tapi daripada ntar digerebek warga dan masuk koran karena tinggal bersama sebelum jadi suami istri, yasudahlah saya tinggal di kos Lebak Bulus dulu hahaha..

Babak baru kehidupan berumah tangga kami dimulai setelah menikah pada 2 Agustus 2014 yang lalu. Tidak perlu banyak penyesuaian lagi karena kami sudah mengenal kebiasaan dan watak masing-masing selama masa pacaran 5 tahun lebih. Dan sekarang bisa lebih mengenal secara mendalam lagi karena setiap hari bersama dengan dia. Dia tetap seperti yang dulu, tidak pernah romantis namun makin dewasa dan bertanggung jawab.

Setelah pemberkatan pernikahan di Gereja Jember

Dipajang di pelaminan



Selama setahun ini, kami melewati hari-hari dengan bergembira layaknya pasangan muda lainnya. Mumpung masih berdua, kami manfaatkan quality time sepuas-puasnya dengan kencan, jalan-jalan, makan-makan, ikut perkumpulan ini-itu, bangun siang, pulang kencan tengah malam sesuka hati (walaupun belum sempat honeymoon hiks..). Sambil terus menabung biar bisa punya segudang berlian hahaha..

Puji Tuhan kami boleh melewati 1 tahun pernikahan ini dengan indah tanpa halangan berarti. Pembimbing kami saat kursus persiapan pernikahan dulu pernah bilang, bila kamu sedang mengalami saat-saat buruk dalam rumah tanggamu, ingatlah alasan mengapa dulu kamu mencintai dan memilih pasanganmu. Mudah-mudahan seterusnya perjalanan kami makin indah dan makin mesra. Rencana berikutnya adalah memiliki momongan. Syukur-syukur bisa honeymoon dulu (tetep ngarep yesss). Semoga persiapan kami lancar. Amiinnn...

Happy 1st Anniversary, my lovely husband!