Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Februari 2017

Honeymoon ke Lombok - part 3/3

Baca juga cerita hari pertama dan hari kedua.

DAY 3. February 8, 2016.

Yeah, di hari terakhir ini kami pengen bangun rada siangan, karena kecapekan abis nyemplung laut kemarennya. Sarapan santai di restoran hotel, sambil menikmati pemandangan deburan ombak Pantai Senggigi. Kemudian packing dengan berat hati, enggan rasanya kembali ke kenyataan hiruk pikuk ibukota. Sengaja kami minta dijemput siang hari menjelang jam check out, nggak mau rugi ceritanya hahaha..

Tujuan utama hari ini adalah cari oleh-oleh sebelum ke bandara. Dari hasil browsing, kami minta diantar ke Pasar Kartanegara aja, infonya sih di sana murah dan lengkap. Ternyata pasarnya sepi dong... Mungkin karena kebanyakan pemilik tokonya Tionghoa, jadi tutup imlekan. Untung ada satu toko grosir yang buka, namanya Putra Souvenir. Di sini lengkap banget, dari gantungan kunci, kaos, tas, dan aksesoris lainnya semua ada. Harga juga lebih murah dibandingkan dengan yang dijual di tempat wisata. Untuk makanan, kami mampir ke toko Phoenix, beli makanan khas Lombok seperti dodol rumput laut, mente madu, dll.

Oleh-oleh done! Masih ada waktu sebelum jadwal keberangkatan pesawat. Tadinya Pak Sofian mau antar kami ke air terjun Sendang Gile, tapi karena di sana hujan, kami balik kucing ke arah sebaliknya. Menyusuri jalan kecil terpencil, kami diantar ke sebuah pantai yang indah dan tenang, namanya Pantai Selong Belanak. Berkat kenalan Pak Sofian, kami bisa masuk ke private beach nya hotel Sempiak Villa hihihi... Awas jangan salah baca nama hotelnya.

Save the best for the last. Ini pantai tercantik dari semua pantai yang kami kunjungi di hari-hari sebelumnya. Ombaknya tenang, pantainya sepi dan bersih. Hanya terlihat beberapa nelayan menjala ikan, serta anak-anak bule dan nelayan lokal bermain ombak. Santai dulu foto-foto dan minum kelapa muda. Ah, nggak salah deh mampir kemari untuk mengakhiri rangkaian honeymoon hehehe..

Cantik ya pantainya..

Bah.. Pose standar!

Ciyee.. Honeymoon!

Kameranya dicantolin pake gorilla pod di rangka kanopi haha..


Mendekati jam keberangkatan, kami pergi dari pantai dan makan sore dulu di warung Nasi Balap Puyung dekat bandara. Dan akhirnya tibalah saatnya meninggalkan Lombok yang indah. Terima kasih Tuhan, Kau ijinkan kami menikmati saat-saat menyenangkan di tempat yang indah ini.


Sayonara, Lombok! Until we meet again!

Honeymoon ke Lombok - part 2/3

Baca juga cerita hari pertama dan hari ketiga.

DAY 2. February 7, 2016.

Bangun tidur ku terus mandiiii... Karena hari ini kami mau snorkeling ke 3 Gili yeaayyy! Ini hasil nyontek itinerary biro tour sih, kok kayaknya seru yasudah mari kita coba hihihi..

Pergi ke Lombok kurang pas kalo belum nyebrang ke 3 gili atau pulau yg terkenal itu, Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Bisa sih pindah hotel ke salah satu pulau tersebut, tapi biar praktis kita tetep nginep di Senggigi aja nggak usah pindah lagi. Khusus buat acara ke gili ini, saya sengaja beli bikini jauh-jauh hari lho. Iya, bikini! Hahaha.. Bodo amat deh lemak tumpeh-tumpeh, nggak ada yg kenal ini.
Pagi-pagi abis sarapan, Pak Sofian udah ready antar kita ke Pelabuhan Bangsal. Dalam perjalanan ke pelabuhan, kami berhenti sejenak buat foto di Malimbu Hill, di mana kami bisa melihat pemandangan 3 gili di seberang lautan. 

Pemandangan 3 gili dari Malimbu Hill

Bikini udah dipakai di balik baju seksi haha..

Dari situ kami lanjut sampai pelabuhan, ngantri naik kapal cepat buat nyebrang ke Gili Trawangan.

Sampai di Gili Trawangan, kami booking paket snorkeling di salah satu kios agen wisata. Kalo nggak salah per orang tarifnya 300ribu. Sambil menunggu jadwal keberangkatan yang masih satu jam lagi, kami sewa sepeda keliling pulau.

Ini bukan foto ibu hamil yaa..

Capek sepedaan kelling Gili Trawangan

Sayang, nggak ada foto dokumentasi kami pas snorkeling (dan foto saya pakai bikini hihihi). Nggak sempat lah ya pegang kamera di atas kapal di tengah laut, selain takut kameranya kecemplung ribet dan basah, kami juga ingin menikmati keindahan alam seutuhnya. Jadi, rombongan snorkeling diangkut pake perahu wisata gitu, yg di bawahnya ada kaca buat lihat pemandangan underwater. Trus kita dibawa nyebur ke spot snorkeling di tengah laut, satu per satu mulai di Gili Trawangan, pindah ke Gili Meno, terakhir ke Gili Air.

Ini pengalaman pertama saya snorkeling di tengah laut. Walaupun nggak bisa berenang, nggak usah kuatir karena kami pakai pelampung, sepatu katak, dan google pinjaman. Saya dan suami berenang mengambang dan maju pelan-pelan dengan bergandengan tangan (kan ceritanya lagi honeymoon hehe), takut ilang kebawa ombak cuy! Haha.. Menurut saya, paling bagus sih di Gili Air, spotnya paling jernih dan banyak ikannya, ditambah ada reruntuhan kapal karam di dasar laut yang sudah ditumbuhi terumbu karang. Ya Tuhan, indah sekali alam ciptaanMu! Nggak nyesel, walaupun kulit jadi gosong dan kering. Puas banget deh, keindahannya nggak cukup diungkapkan dengan kata-kata!

Di Gili Air, kami memisahkan diri dari rombongan karena harus ngejar kapal terakhir kembali ke Pulau Lombok.

Pengennya foto dengan kain berkibar, tapi failed!

Di Pelabuhan Gili Air, nunggu kapal ke Pulau Lombok

Sampai di Pelabuhan Bangsal, Pulau Lombok, Pak Sofian sudah ready jemput kami. Karena hari masih terang, kami minta diantar ke tempat bikin tattoo temporary. Sok-sokan ya hehehe.. Ternyata tempatnya di pasar wisata Pantai Senggigi, nggak jauh dari hotel tempat menginap kami. Kami menikmati sunset sambil duduk lesehan di pasir, sementara seniman menggambar tattoo di punggung.


Sunset di Pantai Senggigi


Nih hasil tattoo nya, baru hilang 2 minggu kemudian

Hahh... Sampai di hotel sudah gelap, tepaarr... Jalan nyari makan pun nggak sanggup, sudah nggak pengen ke mana-mana lagi, ujung-ujungnya pesan ayam taliwang lagi dari restoran hotel hehehe...

Cerita hari ketiga di postingan berikutnya ya.. Stay tuned!

Minggu, 31 Juli 2016

Honeymoon ke Lombok - part 1/3

Horeeeee..... Doa saya untuk bisa pergi honeymoon terkabul juga! Memang terlambat BANGET sih, nikahnya Agustus 2014, honeymoon nya baru Februari 2016 wkwkw.. Ora popo sing penting keturutan horee...
Lombok, tempat pilihan saya sejak sebelum menikah. Nggak tau kenapa, pengen aja ke sana. Bali? Ah, mainstream! Singapore? Malaysia? Thailand? Australia? Eropa? Holyland? No, thank you. Mahal! Hahaha...

Luar biasa panjangnya diskusi saya dan suami sebelum pergi ke Lombok ini. Bolak balik ketunda (dan nyaris dilupakan) karena dananya terpakai buat biaya (utang) renovasi rumah. Puji Tuhan, walaupun masih menyisakan utang, saya bisa memaksa suami untuk pergi foya-foya sebelum punya anak hihihi..

Dan Lombok, it's worth the wait! Indah bangeettt.... Saya ceritain ya 3 hari 2 malam wisata kami di sana.

PERSIAPAN.

Kira-kira 2 bulan sebelumnya, kami sudah cari tanggal cuti. Dipilihlah 6-7-8 Februari karena pas long weekend libur tahun baru cina. Saya sih pengennya pertengahan tahun, biar nggak keganggu hujan, tapi kata suami kelamaan, kapan bikin anaknya kalo gitu hahaha... Ijin cuti disetujui kantor, langsung booking hotel, dan tiket pesawat, biar praktis langsung pake aplikasi Traveloka. Hotel dapet promo diskon Traveloka, Living Asia Resort dari 1 jutaan lebih jadi hanya 800ribuan saja semalam. Sewa mobil dari Rinjani Trans Lombok, sehari 450ribu udah termasuk driver dan bensin. Tadinya sih pengen ambil paket honeymoon dari Global Tour Lombok, tapi dipikir-pikir sayang duitnya ya, dengan hotel yang sama paketnya 9jutaan, cuma bedanya nggak pake dinner pinggir pantai diterangi cahaya obor dan nggak ditaburin bunga-bunga di kasurnya doang. Sedangkan kalo arrange sendiri, hotel dan mobil cuma 4jutaan. Itinerary bisa banget kita contek dari website provider tournya. Yaa kalo pengen bunga-bunga di kasur bisa kita taburin sendiri lah ya hahaha..

Oh ya, tips buat para pengantin baru yang cuma berduaan aja, pastikan kalian bawa tripod/tongsis/gorilla pod, just in case nggak ada yang bantu fotoin kalian berdua di lokasi #truestory.

DAY 1. February 6, 2016.

Berangkat pesawat pertama dari Jakarta naik Lion Air ke Mataram. Di Bandara Selaparang sudah disambut driver sewaan kami, Pak Sofian. Langsung kita diantar ke Desa Wisata Sade. Di sana kita dipandu guide lokal keliling desa sambil diceritain budaya setempat. Siapkan uang untuk sumbangan sukarela ya.

Pintu masuk Desa Sade

Proses memintal benang
Lumbung padi Sasak
Ngomong-ngomong soal Pak Sofian, beliau ini recommended banget. Putra daerah asli, jadi paham banget tempat-tempat wisata dan ceritanya, bahasanya sopan dan enak diajak ngobrol, maklum doi biasa bawa tamu pejabat dan bule, ditambah lagi punya banyak kenalan, jadi kita bisa masuk private beach dengan gratis hihihi.. Dan ternyata, pekerjaan sebagai driver ini cuma sampingan aja buat beliau, karena aslinya beliau adalah PNS di salah satu kantor kecamatan. Katanya, nggak perlu gengsi cari side job, selama halal dan nggak ganggu kerjaan kantor ya saya jalani saja. Luar biasa ya, kalo semua PNS jujur dan ulet kayak beliau!

Setelah itu kami diantar ke Pantai Kuta, tempatnya Putri Mandalika berubah jadi legenda Bau Nyale. Pak Sofian antar kami masuk lewat private beach nya Novotel hihihi.. Asli indah banget, ini satu-satunya pantai yang butiran pasirnya mirip butiran merica.

Private Beach Hotel Novotel

Pantai Kuta

Ngetes gorilla pod baru hahaha

Legenda Putri Mandalika

Capek main di pantai, kami makan siang di warung Nasi Balap Puyung depan bandara. Wuenak tenann... Selain karena kelaparan, juga memang rasa rempahnya khas.

Abis makan kami diantar ke hotel Living Asia di daerah Senggigi, yang ternyata jaraknya sekitar 2 jam dari bandara. Di tengah perjalanan menuju hotel, kami berhenti di desa wisata Sukarare, di mana kami bisa beli kain tenun rangrang khas Lombok, juga berfoto ala pengantin Lombok.

Baju pengantin Sasak

Belajar menenun di Sukarare
Akhirnya kami pun sampai di Hotel Living Asia Senggigi. Lepas check-in, kami mengagumi keindahan hotel, ternyata emang sesuai dengan ulasan di internet. Sorenya, setelah menikmati coffee break, kami jalan kaki di pinggiran pantai Senggigi, menikmati pemandangan ombak dan resort yang berjejer di sepanjang pantai, melihat warga setempat surfing, sambil gandengan tangan. Uhuuyy gitu aja udah girang banget, masih takjub akhirnya kami honeymoon juga hihihi...

Menikmati angin pantai

Salah satu view Living Asia Resort

Di depan kamar

Coffee break pinggir pantai Senggigi

Resto pinggir pantai Senggigi

Sampai di hotel barulah berasa pegel badan ini. Langsung masuk ke tempat spa di hotel. Kapan maneh rek, dipijat berdua di pulau impian, si suami sampe ngorok loh saking menikmati pijatan mbaknya hihihi.. Paket pijat tradisional 600ribu berdua. Mahal ya, biarin aja kan lagi liburan!

Nih tempat spa nya
Orang gendud mau dipijet wkwkwk

Sebenarnya sih, saya pengennya nginep di Qunci Villas, sama di pinggiran Pantai Senggigi juga. Dari hasil browsingan keren banget, pas buat honeymoon. Tapi tarifnya alamakkk, bisa 4x lipat budget! Akhirnya nyari hotel yg suasananya mirip tapi tarif lebih murah, dapetlah Living Asia ini. Suatu saat kalo kami punya rejeki lebih, pengen nginep lah di Qunci Villas.

Hari pertama ditutup dengan makan malam romantis........di kamar sendiri hahaha... Saking capenya, nggak pengen ke mana-mana lagi, cuma pesen ayam taliwang aja dari restoran hotel.

Baca juga cerita hari kedua dan ketiga yang saya tulis di postingan berikutnya ya!

Sabtu, 09 Juli 2016

Semalam di Semarang

Januari 2016 lalu, saya dan suami pergi ke Semarang untuk menghadiri yudisium adik saya satu-satunya. Kebetulan orang tua saya baru bisa ke Semarang minggu depannya saat wisuda, jadi acara yudisiumnya kami ajalah yang hadir, lumayan sekalian wisata hehe..

Berhubung sudah tanggal tua dan belum gajian, jadi berangkatnya naik kereta aja ya hahaha.. Tanggal 23 Januari 2016 pagi-pagi banget kami sudah siap di Stasiun Pasar Senen untuk naik kereta Menoreh jam 7 pagi tujuan Semarang Tawang. Kebetulan beberapa hari sebelumnya adik menginap di rumah saya di Bekasi untuk ikut tes penerimaan sebuah instansi, jadi pagi itu kami berangkat bertiga.

Kereta Menoreh ini kelas ekonomi, tapi sangat nyaman lho. Beda jauuhh banget dari saat terakhir saya naik kereta jaman awal kuliah dulu 10 tahun yang lalu, waktu itu naik kereta ekonomi sudah tidak manusiawi lagi namanya, tapi gombalsiawi saking sumpeknya macam tumpukan gombal dijejel-jejelin haha.. Kereta ekonomi sekarang sudah ada AC nya, bangkunya pun empuk, ada colokan charger pula. Penumpang duduk tertib sesuai nomor tiketnya. Di dalan kereta juga ada pramugari yg menawarkan sarapan dan makan siang, juga bantal (tapi bayar). Pokoknya nggak rugi deh perjalanan 8 jam di kereta ini. Hebat ya Pak Jonan bisa bikin perubahan besar!


Tiket KA Menoreh

Sampai di Stasiun Tawang Semarang, kami langsung naik omprengan menuju tempat kos adik di dekat Undip Pleburan. Dengan alasan hemat budget, kami tidak sewa hotel, cukup satu kamar kos kosong yang tarifnya cuma 100 ribu semalam haha.. Lumayan sudah bisa dapat kamar AC plus televisi. Bapak kosnya baik pula.

Sore hari saat adik pergi ke kampus untuk gladi bersih yudisium, saya dan suami naik motor keliling kompleks, dan mampir makan di sebuah warung yang kelihatannya rame, banyak mahasiswa nongkrong di situ. Dan memang harganya murah. Namanya Ayam Geprek Idola. Makan berdua nggak sampai 40 ribu, padahal suami saya sempat nambah porsi lho haha..


Malam harinya adik mengajak saya dan suami jalan-jalan ke pusat kota Semarang. Tidak banyak tempat yang kami kunjungi karena takut bangun kesiangan besoknya. Kami hanya mengunjungi pasar malam Kota Tua, Gereja Blenduk, trus naik becak ke alun-alun Simpang Lima. Cuma jalan dan foto-foto aja kok, gak belanja hehehe.. Oh ya, kami juga sempat bikin karikatur siluet gitu, di seorang seniman yang mangkal di alun-alun.

Gereja Blenduk Kota Tua Semarang

Numpak becak dari Kota Tua ke Simpang Lima

Alun-alun Simpang Lima Semarang

Keesokan harinya, acara yudisium dilaksanakan di Hotel Patra Jasa. Bangga rasanya, adik saya ini IPK nya 3,8 alias cumlaude lho! Melihat dia berbaris dan dapat tempat duduk di barisan terdepan wisudawan, seolah saya lupa dulu dia  nggak pernah juara semasa sekolahnya (ups!). Ah, bila orang tua saya hadir, pastilah mereka mbrebes mili lihat adik saya ini. Siapa sangka anak yang dulunya paling bandel sekarang jadi satu-satunya yang bergelar S2 di keluarga saya.

We proud of you!

Selesai acara, kirain ada makan-makan dong ya.. Ga taunya garingan, langsung bubar dong hahaha.. Untung udah sarapan sebelumnya. Adik mengajak kami makan siang di depot Mie Lampung, masakan cina. Sampai di kosan, istirahat bentar, lalu packing siap-siap berangkat ke bandara.

Sore itu saya dan suami pulang ke Bekasi dengan hati senang dan penuh harapan, semoga masa depan cerah menantimu, dik! Selamat berjuang mencari nafkah dan rasakan sensasinya hahaha..

Minggu, 23 Agustus 2015

Let's Get Lost in Jakarta!

Ceritanya, kemarin Sabtu 22 Agustus 2015, jadwalnya si mungil Scarlett masuk bengkel karena body bagian bawah penyok abis gasruk trotoar (ternyata asuransi mobil itu membantu banget buat orang yg nyetirnya masih rookie haha). Saya dan suami udah nongkrong pagi-pagi di Honda Pondok Indah buat ninggalin Scarlett rawat inap. Nah, mau langsung balik lagi ke Bekasi saya merasa rugi dong udah bela-belain bolos kelas zumba dan menjahit hari itu demi nganter Scarlett ke Jakarta haha.. Akhirnya kami memutuskan untuk membolang (bocah ilang) dulu sebelum pulang.

Tujuan pertama saya pengen ke Pasar Mayestik yang melegenda dengan kain-kain cantiknya. Bingung naik apaan ke sananya, jangan kuatir karena ada mbah Google. Di sana tertulis kami bisa naik Metromini no. 74 jurusan Blok M - Mayestik - Tanah Kusir. Siipp lahh.. keluar bengkel langsung muncul tuh si Metromini 74. Dengan pedenya kami langsung naik dan duduk manis. Di perempatan Mall Pondok Indah, sang Metromini bukannya belok kiri ke arah Blok M/Mayestik, eh malah puter balik. Hati kami mulai ragu ini bus sebenernya mau ke mana sih, karena GPS juga bilang kita menuju arah yang salah. Olalaa... rupanya kami dibawanya ke daerah Tanah Kusir, yang berarti kami naik Metromini 74 yang sudah mau pulang ke pemberhentian terakhirnya di Tanah Kusir haha.. Bener-bener jadi bocah ilang nih judulnya. Yasudahlah, daripada kami nyasar lebih lanjut di daerah antah berantah, kami turun aja di dekat kuburan Tanah Kusir yg terkenal itu (udah kayak mbak kuntil turunnya di kuburan). Nyebrang jalan, langsung nyetop Metromini 74 yang menuju ke arah sebaliknya. Kali ini saya pastikan dulu ke pak kernet, bener gak ini ke arah Mayestik, baru kami naik haha..

Metromini 74 di Terminal Blok M
Setelah beberapa lama dugem (duduk gemetar) di dalam Metromini yang berguncang-guncang, sambil memantau GPS juga, sampailah kami di Pasar Mayestik dengan selamat sentosa, kira-kira masih jam 9 pagi. Ternyata pasar ini bentuknya sudah bagus dan ber-AC, seperti mall. Belum ada toko kain yang buka di dalam plazanya. Jadi kami menyusuri toko-toko kain di luar plaza, saya cari satu persatu nama toko yang banyak direkomendasikan oleh para netizen. Ternyata tidak sesuai harapan saya, pilihan kain yang saya cari tidak terlalu banyak, dan harganya juga standar gak murah-murah banget seperti yang dibilang di internet. Intinya masih belum sreg belanja kain di sana haha.. Padahal perjuangan menuju lokasinya aja udah menguras emosi, sampai sana malah gak beli apa-apa. Maka sebelum kesabaran pak suami habis, kami putuskan untuk segera cabut dari tempat itu.

Pasar Mayestik yg sudah bagus


Merasa buta arah, browsing lagi deh nyari angkutan buat pulang. Mbah Google bilang, dari Mayestik kami harus naik angkutan ke terminal Blok M, ntar dari Blok M baru oper angkutan lagi ke terminal Kampung Rambutan. Persis di depan Pasar Mayestik kami nyetop sembarang angkutan yang tulisannya Blok M, waktu itu kalo gak salah Metromini 611. Perjalanan sedikit macet karena jalur kami melewati proyek pembangunan MRT. Tak lama kemudian sampailah kami di terminal Blok M.

Terminal Blok M ini dikelilingi mall besar seperti Blok M Square, Blok M Plaza, dan Pasaraya Grande. Lagi-lagi saya ogah pulang, pengen nge-mall dulu haha.. Saya rayu lah pak suami, dengan alasan udah lama gak pergi ke bioskop. Yeess.. untungnya doi setuju, cuusss kita masuk ke Blok M Plaza. Masih jam 10.30 pagi, bioskop belom buka dong yaa.. Jadi kita keliling mall dulu, keluar masuk toko, naik turun eskalator. Sebenernya saya juga butuh tas kerja dan heels baru karena yang lama udah beset sana sini, kan malu kalo dipakai meeting di kantor hihihi.. Tapi boro-boro beli, baru milih-milih aja si bos besar udah keliatan bete nungguinnya. Yasudah lain kali aja deh belinya gak usah ngajak suami. Hadeehh.. cewek kalo mau shopping mendingan gak usah lah ngajak cowok, diburu-buru terus jadi kurang puas kan milih barangnya. Kecuali kalo ke pasar, boleh lah ngajak cowok, lumayan buat ngangkutin sayur belanjaan hihihi..

Salah satu sisi Blok M Plaza


Rasanya udah semua lantai mall kami kelilingi, tapi bioskop belum buka juga. Akhirnya kami makan dulu di resto seafood D'Cost. Terjadi percakapan kocak dengan mas waiternya.

Waiter: Mau nambah teh atau sambelnya kak?
Saya: Gak usah mas.
Waiter: Teh dan sambelnya free kak.
Saya: Oh boleh deh, es teh manis ama sambel mangga ya mas.

Hahaha.. Prinsip saya: Biar plinplan asal dapet gratisan! Tapi ujung-ujungnya itu sambel gratisan gak saya habiskan juga, wong pedesnya minta ampun!

Dapat gratisan sambal mangga dan es teh manis


Selesai makan, bioskop sudah buka. Tak direncanakan kami malah movie marathon. Pertama film kartun berjudul Inside Out, langsung lanjut film kedua dari komik Marvel berjudul Fantastic Four. Harga tiketnya mahal juga ya, 50 ribuan padahal bioskopnya masih level 21. Di Bekasi aja udah XXI tapi harganya cuma 40 ribuan (yaiyalaahh.. Jakarta kok dibandingin ama Bekasi hahaha).

Ini kedua film yg kami tonton di bioskop


Film kelarjam 16.30, udah cukup kencannya, time to go home. Kami pun kembali ke terminal Blok M, berniat naik Metromini 76 jurusan Blok M - Kampung Rambutan. Sejauh mata memandang, yang dicari kok gak ada yaa? Akhirnya mata kami tertumbuk pada bus Kopaja 605, yang juga ke arah Kampung Rambutan. Langsung deh naik. Ngetemnya lama euyy... si bos sampe bete kepanasan.

Untung kemarin Kopaja nya gak penuh kayak gini hihi..


My baby boy mulai rewel karena Kopaja ngetem lama


Ke Jakarta belum lengkap kalo belum merasakan macetnya lalu lintas. Marah juga gak bakalan bikin jalanan lancar. Gak heran ya, banyak penumpang yang nyumpelin headset di telinga, ataupun asyik dengan games di gadgetnya. Sedangkan kami ngobrol berdua dengan bahasa Jawa, sesekali bergumam takjub saat Kopaja melewati deretan rumah dan gedung mewah hahaha.. Abis di kampung gak ada yang kayak gitu.

Turun dari Kopaja, kami nyambung lagi naik angkot AL 28 Tol yang ke arah Ujung Aspal. Naik angkot ini harus siap-siap berdesakan kayak pepes, soalnya kalo belum penuh gak bakalan berangkat haha.. Kami turun di kolong jalan layang dekat pintu tol Jatiwarna, karena di situlah para abang ojek mangkal. Yupp, karena Puri Gading udah dekat, langsung ajalah naik ojek sampe depan rumah.

Angkot AL 28 Tol


Fiuuuhh... Sampai juga di rumah. Udah jam 19.00, artinya 12 jam kami melakukan perjalanan antarkota antarprovinsi haha.. Ini baru nyoba sehari naik angkutan umum rasanya udah kayak tua di jalan, pergi kinclong pulangnya ubanan. Gimana rasanya kalo tiap hari harus pulang pergi ke kantor naik angkutan umum? Hahaha.. Makasih deh. Mending kami tetap setia dengan motor kesayangan, gapapa capek dikit nyetirnya tapi sampai rumah bisa lebih cepat. Kalo naik motor kan bisa nyelip-nyelip di antara kendaraan besar dan bisa lewat jalan pintas yang sempit. Emang andalan banget deh kedua sepeda motor kami! Sehat terus ya, Tor! *elus-elus sepeda motor*

Enjoy Jakarta, good people!